Rabu, 10 November 2021

LITERASI BACA ANAK PULAU

 

Membaca, adalah kemampuan dasar seorang anak yang akan sangat berpengaruh pada pemerolehan ilmu pengetahuan. Sejak usia 5 tahun, bahkan kurang dari itu, sanak sudah dikenalkan huruf dan mengeja. Hal ini bertujuan agar di Sekolah Dasar sudah mahir membaca. Diharapkan setelah mahir membaca, siswa akan mudah memproses informasi dari pembelajaran di sekolah.

Membaca, yang kemudian kita kenal sebagai literasi baca, sangatlah penting. Manusia tentu membutuhkan ilmu pengetahuan agar dapat berkembang. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh salah satunya dengan membaca. Membaca di sini konteksnya adalah memahami isi bacaan, bukan sekadar lancar membaca.

Rupanya hal ini menjadi perhatian khusus bagi pendidikan kita saat ini. Mengingat minat dan sadar baca generasi muda sangatlah kurang. Membaca tulisan agaknya sudah tergantikan dengan pemerolehan informasi yang lebih praktis, yaitu menonton video. Maka berkurang pula intensitas membaca buku/tulisan.

Untuk itu, sejak beberapa tahun lalu, kementrian pendidikan dan kebudayaan telah membumikan istilah literasi. Sebenarnya literasi ini kompleks, terdiri dari beberapa sub diantaranya membaca, menulis, budaya, digital, dan lain sebagainya. Namun jika kita mendengar istilah literasi, maka kita akan berfokus pada kemampuan membaca dan menulis.

Literasi ini juga akan dijadikan kompetensi utama yang harus dimiliki seorang siswa. Yaitu dengan diubahnya konsep Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi. Hal ini merupakan salah satu agenda besar dalam program Merdeka Belajar yangs edang digaungkan oleh pemerintah.

Nah.... Bagaimana literasi di daerah 3T? Apakah memiliki tingkat kompetensi yang sama? Atau justru lebih buruk karena menemui banyak kendala?

Kebetulan, saya bisa menjabarkan sedikit tentang hal ini. Saya adalah seorang guru SD di Pulau Maratua. Pulau yang terlettak di ujung Indonesia, berbatasan dengan Filipina dan Malaysia. Pada dasarnya analk-anak di Pulau Maratua, memiliki kompetensi minimal yang serupa dengan anak-anak lain. Mereka memiliki kemampuan untuk menangkap informasi yang juga setara dengan anak-anak lain. Yang mempengaruhi kemampuan literasi adalah lingkungan mereka. 

Kebiasaan sehari-hari, latar belakang orang tua, pergaulan, dan bagaimana cara orang-orang di sekitar mereka memperlakukan mereka. Dari sini saya melihat bahwa kemampuan literasi baca anak-anak di Pulau Maratua masih sangat kurang. Mereka cenderung senang memperoleh informasi secara visual, melalui ucapan langsung, atau melihat konten video, daripada membaca tulisan. 

Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi membawa paradigma baru yang luar biasa. Anak-anak dituntut untuk dapat berliterasi baca dengan baik. Sedangkan kebiasaan mereka belum mengarah ke sana. Ini menjadi PR yang sangat berat untuk kami, para guru di Pulau Maratua.

Bagaimana kami berkiprah menumbuhkan minat baca anak-anak yang kurang. Serta bagaimana kami mengajarkan anak-anak agar cepat lancar membaca. Di Pulau Maratuia, siswa kelas 1 SD masih harus dibimbing secara intensif dalam kompetensi membaca dan menulisnya.

Saya berharap, dengan adanya kemauan, usaha, dan kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orangtua m,urid, dapat menjadikan kompetensi minimal dalam literasi ini dapat terwujud. Karena, apapun itu, suka tidak suka, literasi membaca itu sangat penting.

Demikian coretan singkat saya, sebagai buah pikiran yang saya curahkan. Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari tulisan singkat ini. Terimakasih....

Salam sehat!

Salam literasi!


2 komentar:

SAAT SEMUA SERBA MINIMALIS

Assalamualaikum... Wr. Wb. Haii... selamat pagi... gimana kabar sahabat semuanya hari ini? Semoga selalu bahagia ya...  Lama sekali ya saya ...