Assalamualaikum Wr.Wb....
Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah tempat saya mengajar, SDN 001 Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Banyak bapak ibu guru senior yang memiliki segudang prestasi dan pengalaman yang menarik selama mendidik anak-anak di sekolah ini. Namun, izinkan saya membagikan sedikit pengalaman tentang praktek baik pemanfaatan TIK.
Setiap daerah memiliki karakteristik lingkungan yang membawa iklim belajar tersendiri, tak terkecuali di Pulau Maratua. Perjalanan kurang lebih 4 tahun mendidik di sekolah ini, saya menemui beberapa tantangan. Tantangan pertama adalah keterbatasan pemenuhan kebutuhan hidup yang berpengaruh pada tingkat kesiapan siswa dalam belajar. Layakmya di pulau-pulau kecil lainnya, Pulau Maratua memiliki kendala air bersih serta pembuangannya. Sebagian besar masyarakat masih bergantung kepada air hujan. Ada beberapa sumur air tawar yang berfokus pada satu wilayah di dekat kecamatan, yang dimanfaatkan oleh warga sekitar, dan dijual ke wilayah lain untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.
Kondisi ini secara tidak langsung berpengaruh pada kesiapan siswa dalam belajar, dan tingkat fokusi siswa selama belajar. Kita semua adalah manusia yang sangat bergantung pada air. Untuk keperluan kebersihan dan konsumsi di sini sebagian besar terpenuhi dengan air hujan. Sementara itu, tidak semua keluarga memiliki penampung air yang mencukupi seluruh anggota keluarga. Terkait dengan hal ini, siswa yang mengikuti pembelajaran di sekolah memiliki kesiapan diri yang kurang. Kondisi badan kurang fresh, perlengkapan sekolah yang dibersihkan dengan air yang minim, serta kebutuhan mineral yang kurang akan berpengaruh pada mental siswa saat mengikuti pembelajaran.
Tantangan kedua yaitu fasilitas jaringan internet yang terbatas. Pulau Maratua hanya memiliki satu tower salah satu provider, yang letaknya di kampung kecamatan. Kebetulan di kampung saya tinggal, difasilitasi tower oleh bandara Maratua, yang memang letaknya di kampung kami. Sehingga jaringan internet yang memadai hanya ada di dua kampung yaitu kampung Payung-Payung dan Kampung Teluk Harapan. Sementara itu, dua kampung lain yaitu Teluk Alulu dan Bohe Silian minim jaringan internet. Hal ini menjadi hambatan besar terutama dalam memfasilitasi pendidikan jarak jauh semasa pandemi.
Selain itu, fasilitas listrik. PLN baru masuk ke Pulau Maratua di tahun 2020 kemarin. Sekarang hanya memenuhi kebutuhan warga selama 12 jam dari pukul 18.00 - 06.00. Sejak beberapa tahun lalu ada listrik panel surya di setiap kampung yang pemanfaatan dan perawatannya kurang optimal sehingga seiring berjalannya waktu tidak lagi dapat dimanfaatkan bersama. Setelahnya warga mengandalkan panel surya yang merupakan bantuan pemerintah, atau mesin diesel. Tentu tidak bisa sewaktu waktu digunakan bergantung pada sinar matahari, dan tidak bisa menjangkau peralatan yang membutuhkan daya listrik besar.
Kendala ini sangat berpengaruh pada pembelajaran di sekolah. Kami sebagai guru tidak bisa mengeksplorasi TIK sebagai media pembelajaran dengan baik. Sehingga pembelajaran masih cenderung konvensional. Meskipun demikian kami tetap berusaha untuk tidak tertinggal dalam pemanfaatan TIK. Salah satu usaha kami sangat kentara pada masa pandemi sejak 2020 kemarin.
Awal masa pandemi sekitar bulan April 2020, saya dan semua guru di sini seperti dihantam badai. Kami mencari cara agar pembelajaran tetap dapat dilaksanakan tanpa adanya tatap muka. Kami berdiskusi, kolaborasi, dan tercetuslah pembentukan grup WA masing-masing kelas. Dari sini kami melakukan pembelajaran daring setiap hari.
Saat itu saya mengajar kelas II. Cukup sulit mengkondisikan pembelajaran pada awalnya. Siswa kelas II adalah anak-anak yang masih perlu bimbingan. Dalam pembelajaran daring, saya sangat membutuhkan dukungan orangtua. Tapi alhamdulillah dengan beberapa kali saya komunikasikan kepada para orangtua murid, pelan-pelan mereka mulai mengerti dan berusaha bekerjasama dengan pihak sekolah. Saya sangat berterimakasih pada para orangtua murid saya di kelas II yang telah membersamai anak-anak selama belajar daring di rumah.
Pembelajaran melalui grup WA saya lakukan dengan cara membagikan tugas dalam bentuk teks, video, maupun voice note. Sementara itu, siswa m,engumpulkan tugas dalam bentuk foto tulisan pada buku mereka yang dikirim di WA.
Selang beberapa minggu, sekolah mengusulkan dan mengadakan tatap muka terbatas, di rumah guru. Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok maksimal 5 siswa satu kelompok. Kemudian, siswa datang ke rumah guru sesuai kelompoknya setiap hari. Cara ini menjadi angin segar bagi kami. Anak-anak antusias dalam mengikuti pembelajaran.
Kemudian di tahun ajaran baru 2021-2022 saya ditugaskan sebagai wali kelas VI. Rencana PTMT sudah disiapkan dengan cukup matang oleh sekolah. Namun qodarullah covid-19 gelombang ke 2 melanda. Terpaksa kami ikuti aturan dinas untuk melaksanakan pembelajaran daring. Rencana awal yang sudah terpampang di angan, lenyap seketika.
Saya pun berusaha mengenali karakteristik siswa saya di kelas VI. Ternyata pembelajaran memaksimalkan grup WA kurang maksimal. Hingga saya mencoba untuk mengkombinasikannya. Siswa melihat tugas dari WA setiap hari, kemudian di hari Rabu dan Sabtu mereka datang ke rumah untuk konsultasi sekaligus mengumpulkan tuigas. Saya memberikan mereka ruang privat. Masing-masing siswa berhadapan dengan saya secara individu. Dengan begitu saya memperdalam informasi tentang karakteristik mereka, dan siswa dapat leluasa bertanya, berkonsultasi, serta memperoleh ilmu langsung dari saya.
Alhamdulillah semua berjalan dengan cukup baik, meski ada beberapa siswa saya yang masih enggan untuk datang ke rumah saya. Meskipun begitu saya mengapresiasi semangat mereka, dan ketjasama baik dari orangtua siswa yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran daring ini.
Di awal bulan Agustus, kami mendapat surat rekomendasi PTMT dari dinas pendidikan. Segera kami siapkan fasilitasnya terutama tentang protokol kesehatan di sekolah. PTMT yang kami laksanakan menggunakan model Blended Learning. Saya, mengelompokkan siswa saya yang berjumlah 18 siswa ke dalam 2 kelompok. Mereka hadir di sekolah untuk tatap muka 3 kali dalam seminggu. Selebihnya belajar daring dari rumah.
Pada saat PTMT ini, bersamaan dengan kegiatan saya mengikuti pembaTIK 2021 level 3. Saya memperdalam Portal Rumah Belajar, kemudian berusaha untuk menerapkan di kelas saya. Dan akhirnya saya menemukan sebuah aplikasi yaitu "Next Door Land" yaitu aplikasi android tentang jelajah budaya Indonesia. Ini menarik perhatian saya, mengingat anak-anak sekarang suka bermain game, dan cenderung kurang meminati litersai budaya.
Saya mengunduh aplikasi ini di Fitur Pendukung Portal Rumah Belajar
Kemudian saya menerapkannya pada kelas saya, yaitu kelas VI. Bagimana implementasinya, tunggu postingan selanjutya yaaa......
Wassalamualaikum Wr. Wb..
Salam Sehat!
Salam Literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar