Sabtu, 13 November 2021

GEGARA PANDEMI, KITA BERSAHABAT KARIB DENGAN WEBINAR

 Assalamualaikum Wr,Wb...

Hai Sahabat, bagaimana kabar hari ini? Semoga selalu tersenyum diiringi perasaan yang nyaman dan gembira. Kali ini, saya akan berbagi cerita tentang persahabatan saya dengan webinar. Saya sudah akrab sekali dengan webinar sejak awal tahun 2020. Bisa dikatakan, ini salah satu hikmah positif pandemi bagi saya. 

Webinar, atau singkatan dari web-seminar adalah sebuah seminar atau pelatihan yang dilakukan dengan video konferensi atau online. Selayaknya seminar, webinar juga menyajikan materi tertentu yang dibawakan oleh penyaji atau widyaswara. Bedanya adalah, peserta dan penyaji tidak banyak bereksplorasi dengan gestur dan posisi karena harus selalu standby di depan kamera. 

Selama pandemi, saya melihat berbagai flyer webinar bertebaran di grup-grup whattsap, dan sosial media. Awalnya saya enggan melihat dengan seksama, apalagi mengikuti. Saya ragu apakah webianr dapat dijadikan pengembangan diri yang legal, mengingat pelatihannya bersifat virtual dan sertifikatnya pun virtual. 

Semakin hari semakin beragam materi yang disajikan dalam webinar. Ada yang berbayar, ada juga yang gratis. Akhirnya saya penasaran dan mengikuti salah satu webinar bersama beberapa teman guru di sini. Dan ternyata menyenangkan. Kita bisa menerima materi webinar tidak perlu mendatangi acara, cukup bermodal android atau laptop, dan jaringan yang stabil. Alhamdulillah kondisi jaringan di sini saat itu sudah membaik dari sebelumnya.

Saya beberapa kali ikut webinar dengan materi yang berbeda. Ada yang sangat menarik hingga saya tidak beranjak dari depan laptop dari awal hingga akhir. Namun ada juga webinar yang kurang menarik dari segi tampilan slide, maupun pembwaan pemateri yang kurang terstruktur sehingga saya mengikuti webinar sambil melakukan aktivitas lainnya. 

Pada hakikatnya tujuan webiar adalah sama dengan seminar, yaitu menyajikan materi agar peserta dapat memahami, dan mempraktikkan materi yang disampaikan. Untuk jam pengajarannya, jika seminar dihitung jam sesuai kehadiran dan waktu seminar di tempat, sedangkan webinar dapat dihitung berdasarkan perkiraan waktu peserta menyelesaikan tugas di luar ruang virtual. 

Dari webinar, saya memperoleh beragam pengetahuan di bidang inovasi pembelajaran dan pendidikan. Beberapa webinar yang saya ikuti diantaranya "Webinar Self Driving for Teacher" yamg diadakan oleh PGRI pusat, dan diikuti ribuan guru di seluruh Indonesia; Webinar yang diadakan mediaguru Indonesia bertajuk "Satu Guru Satu Buku" dimana setelah ikut webinar ini saya dapat menelurkan buku pertama saya; Webinar "SKM dan Survey Karakter" yang diadakan oleh STKIP Surabaya; Webinar pembuatan Best Practice oleh mediaguru Indonesia; Webinar literasi; dan lain-lain.

Selain itu, saya jadi mengerti bagaimana menggunakan zoom, meskipun belum pernah membuka ruang zoom untuk kegiatan sendiri atau pembelajaran di kelas. Dan dari webinar, saya dapat mengetahui berbagai ilmu pengetahuan terkait inovasi pembelajaran dan pengembangan diri sebagai guru.

Alhamdulillah di tahun 2021, saya mengikuti pembaTIK level 4 yang membawa saya untuk mengadakan suatu webinar secara kolaboratif. Dari sini saya semakin paham bagaimana mengadakan video konferensi, mengikuti ruang video konferensi dengan beberapa aplikasi yaitu zoom, streamyard, dan via instagram. 

 Beberapa webianr yang saya selenggarakan untuk sosialisasi "Merdeka Belajar Bersama Portal Rumah Belajar" di pembaTIK level 4 ini diantaranya :

1. Webianr "Merdeka Belajar Bersama Portal Rumah Belajar" yang diselenggarakan oleh SRB Kaltim domisili Kab. Berau bekerjasama dengan dinas pendidikan Kabupaten Berau dan DRB Kalimantan Timur 2020, Ibu Ade Putri Sarwendah.

Flyer Webinar "Merdeka Belajar Bersama Portal Rumah Belajar"

Webinar ini terselenggara pada hari Rabu, 3 Novemnber 2021 dimulai pukul 09.00 WIB, dan diakhiri pada pukul 12.00 WIB. Acara dibawakan oleh moderator Bapak Mujahid, SRB dari Kecamatan Biduk-Biduk, Kab. Berau. Dilanjutkan dengan pembukaan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Dr. H, Suprapto, S.Pd, M.Pd. Kemudian acara dilanjutkan dengan materi pengantar tentang pembaTIK dan Portal Rumah Belajar yang dibawakan oleh pembicara utama, Duta Rumah Belajar 2020, Ibu Ade Putri Sarwendah, S.Pd. Lalu setelah itu barulah para SRB memaparkan tentang fitur-fitur dalam Portal Rumah Belajar. Pemaparan tentang Fitur Utama Portal Rumah Belajar disampaikan oleh Ibu Nurdiansari, S.Pd, dan Ibu Eka Dianti, S.Pd. Sedngkan pemaparan tentang Fitur Pendukung Portal Rumah Belajar disampaikan oleh saya dan Bapak Mujahid, S.Pd.

Peserta dalam webinar ini berjumlah 64. Mayoritas peserta adalah bapak ibu guru di kabupaten berau, dan beberapa guru dari luar kabupaten berau. Saat acara berlangsung semua peserta hadir dan mengikuti sampai akhir. 

Jika sahabat ingin melihat rekaman video konferensinya, silakan lihat video dibawah ini, atau tekan link yang berada di bawah video :

                   

2. Webinar BEKASAI (Berbagi dan Berkolaborasi Secara Inovatif) dengan topik "Inovasi Sumber Belajar Wujudkan Merdeka Belajar" yang diselenggarakan oleh para SRB Kalimantan Timur bekerjasama dengan Pusdatin, Bapak Hermanto dan DRB Kalimantan Timur 2020, Ibu Ade Putri Sarwendah.

                    Flyer Webinar BEKASAI "Inovasi Sumber Belajar Wujudkan Merdeka Belajar"

Webinar ini dilaksanakan pada hari Selasa, 9 November 2021. Dibuka pada pukul 16.00 WITA dan diakhiri pada pukul 18.15 WITA. Urutan materi yang disampaikan adalah :

1. Pembukaan oleh Bapak Hermanto, PTP Pusdatin

2. Pengantar materi oleh Ibu Ade Putri Sarwendah

3. Pemaparan Fitur Portal Rumah Belajar oleh Ibu Ratna Dewi

4. Pemaparan Pembuatan Video Pembelajaran denagnaplikasi camtasia oleh saya sendiri

5. Pembuatan slide presentasi dengan canva oleh Ibu Nurdiansari

6. Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif oleh Ibu Nur Afni Yuniar

7. Penguatan implikasi inovasi pembelajaran untuk siswa oleh Ibu Yanti Restiawati

Berikut ini adalah dokumentasi video dari webinar BEKASAI "Inovasi Sumber Belajar Wujudkan Merdeka Belajar"


Atau, sahabat bisa tekan tautan di bawah ini :


Sekian dulu cerita tentang sahabat karib saya yaitu webinar. Terimakasih sudah menyimak, semoga dapat diambil manfaat. Aamiin

Wassalamualaikum Wr. Wb...

Salam Sehat!

Salam Literasi!



Jumat, 12 November 2021

PRAKTIK BAIK INI BUKAN SEMATA DEMI MENJADI YANG TERBAIK

 

Assalamualaikum Wr.Wb...

Bagaimana kabar sahabat semuanya,,, semoga selalu sehat dan ceria!

Pada tulisan kali ini saya akan menguraikan tentang praktik baik pembelajaran berbasis TIK pada masa pandemi yang telah saya lakukan. Namun sebelumnya saya perlu menjelaskan bahwa praktik baik ini bukan untuk gaya-gayaan, atau agar mendapat predikat yang terbaik diantara para guru yang lain. Saya masih jauh dari baik, dan sedang menjalani setiap prosesnya dengan belajar dan mencoba berbagi.

Praktik Baik atau sering kita kenal sebagai Best Practice merupakan "Pengalaman Terbaik" dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dan lingkungan tertentu. Berangkat dari pengertian tersebut saya memiliki ide untuk merancang sebuah Praktik Baik dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar. Mengapa Portal Rumah Belajar? 

Saat ini kita sebagai guru harus mengakui bahwa pendidikan kita sudah mengarah ke pembelajaran berbasis TIK. Hal ini selaras dengan apa yang sudah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Pusat Data Teknologi Informasi dalam membuat sebuah portal sebagai upaya memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK, yaitu Portal Rumah Belajar. Jika kita mengingat sejarah Portal Rumah Belajar, sebenarnya portal ini sudah ada sejak tahun 2011 tepatnya diluncurkan di tanggal 15 Juli 2011. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Kemdndikbud sudah melakukan persiapan ini sejak lama. Kemajuan teknoologi yang berkembang sangat pesat. Ditambah kemajuan bidang pendidikan dari berbagai negara maju yang juga semakin melesat ke depan. Rasanya wajar kementerian menanggapi hal ini juga dengan sigap.

Portal Rumah Belajar adalah sebuah paket lengkap yang menyajikan berbagai fitur yang menarik untuk diaplikasikan dalam pembelajaran, dan menjadi sarana pengembangan diri yang layak untuk dicoba para guru. Salah satu fitur dalam Portal Rumah Belajar yang menarik perhatian saya adalah Fitur Peta Budaya. Mengapa? Karena keragaman budaya pada zaman modern seperti sekarang agaknya menjadi hal usang yang seolah tidak layak untuk dipahami. Padahal, sebagai bentuk rasa syukur kita berada ditengah keragaman budaya Indonesia, juga sebagai wujud literasi budaya, kita wajib mengetahui dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Maka, saya berselancar dalam fitur Peta Budaya, kemudian menemukan sebuah aplikasi yang luar biasa, yaitu “Next Door Land”.

Aplikasi ini tercetus dari Kerjasama baik antara Pemerintah Australia, dengan Kemendikbud, dan Rumah Belajar. Setelah kita membuka aplikasi ini maka kita akan diajak untuk menjelajah Indonesia dan Australia yang dikemas menarik dalam ragam permainan, serta tampilan komik dan konten bacaan yang dapat memacu kita untuk mengulik lebih dalam ke dalam aplikasi ini.

Praktik baik yang saya lakukan adalah “Blended Learning dengan Aplikasi Next Door Land” Siswa Kelas VI. Seperti kita telah ketahui bersama, bahwa Blended Learning adalah model pembelajaran yang menggabungkan du acara belajar yaitu sinkronus (tatap muka) dan asinkronus(tatap maya/ daring). Blended Learning memiliki 3 sintaks yaitu :

1.     Seeking of Information

Mencari informasi dari berbagai sumber dan media.

2.     Acquisition of Information

Mengaitkan antara temuan informasi dengan materi.

3.     Synthesizing of Knowledge

Menjelaskan pengetahuan yang diperoleh kepada orang lain.

Langkah-langkah yang saya lakukan dalam praktik baik ini diantaranya :

1.     Mengunduh aplikasi Next Door Land, dan membagikannya di grup Whattsap kelas.

2.     Meminta siswa mendownload dan menginstal di gawai masing-masing.

3.     Pada jam pembelajaran, saya memberikam tugas daring kepada siswa yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan Indonesia di tiga daerah.

4.     Pada pembelajaran tatap muka terbatas, saya pun memberikan tugas yang sama, dan dilakukan siswa secara kolaboratif dengan kelompoknya yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan Indonesia di tiga daerah. (SINTAKS 1)

5.     Siswa kemudian berdiskusi mengaitkan temuannya dengan materi yaitu persatuan dalam perbedaan dan sikap toleransi, dan memuat laporan singkat. (SINTAKS 2)

6.     Perwakilan dalam kelompok menyampaikan hasil diskusinya di muka kelas. (SINTAKS 3)

Dengan melaksanakan pembelajaran ini, siswa dapat:

1.     Berliterasi digital dengan bijaksana menggunakan gawai.

2.     Berliterasi budaya dengan memainkan aplikasi “Next Door Land”

3.     Mengambil manfaat dari aplikasi tersebut yaitu sikap toleransi diantara perbedaan, bangga dan menghargai kebudayaan lain, dan melestarikan budaya Indonesia

4.     Memotivasi siswa dalam belajar.

Dengan demikian pembelajaran “Blended Learning dengan Aplikasi Next Door Land” dapat meningkatkan implementasi pembelajaran berbasis TIK. Dan sebagai upaya untuk mengajarkan literasi digital dan literasi budaya kepada siswa kelas VI.

Secara lebih jelas, Praktik Baik ini dapat sahabat lihat pada video di bawah ini:

 


Atau silakan sahabat tekan tautan di bawah ini :

Terimakasih sudah membaca, semoga mendapatkan manfaat dan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sahabat di kelas masing-masing.

Wassalamualaikum Wr. Wb..

Salam Sehat!

Sala Literasi!

PEMBELAJARAN BERBASIS TIK, SEJUMPUT PROBLEMA BAGI PENDIDIKAN DI PULAU TERLUAR INDONESIA

 Assalamualaikum Wr.Wb....

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah tempat saya mengajar, SDN 001 Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.  Banyak bapak ibu guru senior yang memiliki segudang prestasi dan pengalaman yang menarik selama mendidik anak-anak di sekolah ini. Namun, izinkan saya membagikan sedikit pengalaman tentang praktek baik pemanfaatan TIK.

Setiap daerah memiliki karakteristik lingkungan yang membawa iklim belajar tersendiri, tak terkecuali di Pulau Maratua. Perjalanan kurang lebih 4 tahun mendidik di sekolah ini, saya menemui beberapa tantangan. Tantangan pertama adalah keterbatasan pemenuhan kebutuhan hidup yang berpengaruh pada tingkat kesiapan siswa dalam belajar. Layakmya di pulau-pulau kecil lainnya, Pulau Maratua memiliki kendala air bersih serta pembuangannya. Sebagian besar masyarakat masih bergantung kepada air hujan. Ada beberapa sumur air tawar yang berfokus pada satu wilayah di dekat kecamatan, yang dimanfaatkan oleh warga sekitar, dan dijual ke wilayah lain untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Kondisi ini secara tidak langsung berpengaruh pada kesiapan siswa dalam belajar, dan tingkat fokusi siswa selama belajar. Kita semua adalah manusia yang sangat bergantung pada air. Untuk keperluan kebersihan dan konsumsi di sini sebagian besar terpenuhi dengan air hujan. Sementara itu, tidak semua keluarga memiliki penampung air yang mencukupi seluruh anggota keluarga. Terkait dengan hal ini, siswa yang mengikuti pembelajaran di sekolah memiliki kesiapan diri yang kurang. Kondisi badan kurang fresh, perlengkapan sekolah yang dibersihkan dengan air yang minim, serta kebutuhan mineral yang kurang akan berpengaruh pada mental siswa saat mengikuti pembelajaran. 

Tantangan kedua yaitu fasilitas jaringan internet yang terbatas. Pulau Maratua hanya memiliki satu tower salah satu provider, yang letaknya di kampung kecamatan. Kebetulan di kampung saya tinggal, difasilitasi tower oleh bandara Maratua, yang memang letaknya di kampung kami. Sehingga jaringan internet yang memadai hanya ada di dua kampung yaitu kampung Payung-Payung dan Kampung Teluk Harapan. Sementara itu, dua kampung lain yaitu Teluk Alulu dan Bohe Silian minim jaringan internet. Hal ini menjadi hambatan besar terutama dalam memfasilitasi pendidikan jarak jauh semasa pandemi. 

Selain itu, fasilitas listrik. PLN baru masuk ke Pulau Maratua di tahun 2020 kemarin. Sekarang hanya memenuhi kebutuhan warga selama 12 jam dari pukul 18.00 - 06.00. Sejak beberapa tahun lalu ada listrik panel surya di setiap kampung yang pemanfaatan dan perawatannya kurang optimal sehingga seiring berjalannya waktu tidak lagi dapat dimanfaatkan bersama. Setelahnya warga mengandalkan panel surya yang merupakan bantuan pemerintah, atau mesin diesel. Tentu tidak bisa sewaktu waktu digunakan bergantung pada sinar matahari, dan tidak bisa menjangkau peralatan yang membutuhkan daya listrik besar. 

Kendala ini sangat berpengaruh pada pembelajaran di sekolah. Kami sebagai guru tidak bisa mengeksplorasi TIK sebagai media pembelajaran dengan baik. Sehingga pembelajaran masih cenderung konvensional. Meskipun demikian kami tetap berusaha untuk tidak tertinggal dalam pemanfaatan TIK. Salah satu usaha kami sangat kentara pada masa pandemi sejak 2020 kemarin.

Awal masa pandemi sekitar bulan April 2020, saya dan semua guru di sini seperti dihantam badai. Kami mencari cara agar pembelajaran tetap dapat dilaksanakan tanpa adanya tatap muka. Kami berdiskusi, kolaborasi, dan tercetuslah pembentukan grup WA masing-masing kelas. Dari sini kami melakukan pembelajaran daring setiap hari.

Saat itu saya mengajar kelas II. Cukup sulit mengkondisikan pembelajaran pada awalnya. Siswa kelas II adalah anak-anak yang masih perlu bimbingan. Dalam pembelajaran daring, saya sangat membutuhkan dukungan orangtua. Tapi alhamdulillah dengan beberapa kali saya komunikasikan kepada para orangtua murid, pelan-pelan mereka mulai mengerti dan berusaha bekerjasama dengan pihak sekolah. Saya sangat berterimakasih pada para orangtua murid saya di kelas II yang telah membersamai anak-anak selama belajar daring di rumah.

Pembelajaran melalui grup WA saya lakukan dengan cara membagikan tugas dalam bentuk teks, video, maupun voice note. Sementara itu, siswa m,engumpulkan tugas dalam bentuk foto tulisan pada buku mereka yang dikirim di WA. 

Selang beberapa minggu, sekolah mengusulkan dan mengadakan tatap muka terbatas, di rumah guru. Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok maksimal 5 siswa satu kelompok. Kemudian, siswa datang ke rumah guru sesuai kelompoknya setiap hari. Cara ini menjadi angin segar bagi kami. Anak-anak antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Kemudian di tahun ajaran baru 2021-2022 saya ditugaskan sebagai wali kelas VI. Rencana PTMT sudah disiapkan dengan cukup matang oleh sekolah. Namun qodarullah covid-19 gelombang ke 2 melanda. Terpaksa kami ikuti aturan dinas untuk melaksanakan pembelajaran daring. Rencana awal yang sudah terpampang di angan, lenyap seketika. 

Saya pun berusaha mengenali karakteristik siswa saya di kelas VI. Ternyata pembelajaran memaksimalkan grup WA kurang maksimal. Hingga saya mencoba untuk mengkombinasikannya. Siswa melihat tugas dari WA setiap hari, kemudian di hari Rabu dan Sabtu mereka datang ke rumah untuk konsultasi sekaligus mengumpulkan tuigas. Saya memberikan mereka ruang privat. Masing-masing siswa berhadapan dengan saya secara individu. Dengan begitu saya memperdalam informasi tentang karakteristik mereka, dan siswa dapat leluasa bertanya, berkonsultasi, serta memperoleh ilmu langsung dari saya. 

Alhamdulillah semua berjalan dengan cukup baik, meski ada beberapa siswa saya yang masih enggan untuk datang ke rumah saya. Meskipun begitu saya mengapresiasi semangat mereka, dan ketjasama baik dari orangtua siswa yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran daring ini.

Di awal bulan Agustus, kami mendapat surat rekomendasi PTMT dari dinas pendidikan. Segera kami siapkan fasilitasnya terutama tentang protokol kesehatan di sekolah. PTMT yang kami laksanakan menggunakan model Blended Learning. Saya, mengelompokkan siswa saya yang berjumlah 18 siswa ke dalam 2 kelompok. Mereka hadir di sekolah untuk tatap muka 3 kali dalam seminggu. Selebihnya belajar daring dari rumah.

Pada saat PTMT ini, bersamaan dengan kegiatan saya mengikuti pembaTIK 2021 level 3. Saya memperdalam Portal Rumah Belajar, kemudian berusaha untuk menerapkan di kelas saya. Dan akhirnya saya menemukan sebuah aplikasi yaitu "Next Door Land" yaitu aplikasi android tentang jelajah budaya Indonesia. Ini menarik perhatian saya, mengingat anak-anak sekarang suka bermain game, dan cenderung kurang meminati litersai budaya.

Saya mengunduh aplikasi ini di Fitur Pendukung Portal Rumah Belajar

Kemudian saya menerapkannya pada kelas saya, yaitu kelas VI. Bagimana implementasinya, tunggu postingan selanjutya yaaa...... 

Wassalamualaikum Wr. Wb..

Salam Sehat!

Salam Literasi!

Kamis, 11 November 2021

SUARA DARI PULAU MARATUA "MESKI GERAK TERBATAS BERBAGI TANPA KENAL BATAS"

     Assalamualaikum Wr. Wb...
Hai.... sahabat, bagaimana kabarnya? Semoga senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan keceriaan. Kali ini saya akan menguraikan perjalanan singkat namun berat dan penuh tantangan selama akhir Oktober hingga pertengahan November ini. Saya adalah salah satu dari 30 Sahabat Rumah Belajar provinsi Kalimantan Timur tahun 2021. Sebuah predikat yang seolah menempel pada punggung saya, membawa saya untuk berjuang menyelesaikan serangkaian tugas yang menanti di hadapan saya. 


Pada tanggal 22 Oktober, saya mendapat kabar bahwa saya telah lolos ke pembaTIK level 4. Sebuah pelatihan berskala nasional tentang pembelajaran berbasis TIK. Tertegun saya memandangi kelas level 4 yang sudah tertera nama saya di dalamnya. Rasa tidak percaya. Saya bukanlah seorang ahli TIK. Bukan pula guru yang mengukir banyak prestasi. Ditambah saya mengabdi di daerah 3T, yaitu di SDN 001 Payung-Payung, Kampung Payung-payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau. Rasanya baru beberapa waktu lalu saya sekonyong-konyong menyelesaikan serangkaian tugas akhir di pembaTIK level 3 yaung cukup menguras waktu dan tenaga. Sekarang saya di depan pintu level 4. Satu pertanyaan dalam benak saya "Apa yang harus saya lakukan? Melangkah maju, atau tidak melakukan apapun?"


Semalaman saya berpikir mengenai keputusan saya. Hingga pada akhirnya saya beranikan diri ungkapkan kepada suami tentang apa yang saya dapati, masuk kelas level 4 pembaTIK 2021. Pagi harinya, sembari sarapan, saya membuka obrolan kepada suami tentang hal ini. Diluar dugaan saya, suami mendukung dan menyilakan saya untuk melaksanakan serangkaian tugas di pembaTIK level 4. Saya kembali tertegun. Pernyataan beliau justru membuat saya gemetar. Bisakah saya melangkah?


Kemudian, sore harinya baru saya memantapkan niat untuk mengikuti pembaTIK level 4 ini. Sembari menghela nafas panjang, saya ucapkan bismillah, dan mengunggah twibbon pembaTIK level 4 ke akun sosial media saya. 

         Twibbon Pembatik Level 4 2021 

Beberapa hari kemudian saya memesan banner untuk sosialisasi tatap muka. Agak khawatir banner ini akan lama tiba, karena saya pesan melalui marketplace, owner dari Jawa. Tapi alhamdulillah datang di saat yang tepat, sehari sebelum sosialisasi tatap muka pertama saya. 


        Banner Sosialisasi Tatap Muka 'Merdeka Belajar Bersama Portal Rumah Belajar" 

Saya kemudian dimasukkan dalam sebuah grup Whattshap yang berisi para Sahabat Rumah Belajar Provinsi Kalimantan Timur, beberapa tim Pusdatin, dan para Duta Rumah Belajar Provinsi Kalimantan Timur sejak tahun 2018 hingga 2020. Jantung saya berdebar. Menciut lagi nyali saya untuk ikut berpartisipasi. Saya membayangkan betapa teman-teman SRB ini adalah para guru yang hebat dan terfasilitasi dengan baik dalam menyelenggarakan pembelajaran. Tidak seperti saya. Kembali saya tarik nafas panjang, berusaha untuk lebih tenang. 

Pada tanggal 24 Oktober 2021, saya mulai memasuki kelas pembaTIK level 4. Saya melihat beberapa modul terpampang di sana. Saya mulai mengintip beberapa modul, dan membuka tugas akhir. Sesuai dengan namanya, Berbagi dan Bekolaborasi, level 4 ini mewajibkan peserta untuk membagikan ilmu yang diperoleh diintegrasikan dengan Portal Rumah Belajar kepada para guru di sekitar pengabdian, dan lebih luas kepada para guru di luar tempat tinggal secara daring.


Saya tertegun. Artinya saya harus membagikan sebuah ilmu tengtang pembelajaran berbasis TIK yang meliputi Portal, Web, Konten, dan aplikasi serta bagaimana implementasi dalam pembelajaran. Sementara kondisi di sini jaringan dan listrik masih belum stabil. Bahkan ada beberapa wilayah yang minim sekali terjamah jaringan dan listrik. Lalu bagaimana nanti saya akan menjelaskannya. Beberapa malam saya memikirkan hal ini. Hingga akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk bersyukur dan berusaha melaksanakan tugas ini semampu saya. Setidaknya saya pernah berusaha menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK dengan memanfaatkan fitur Sumber  Belajar pada Portal Rumah Belajar.


Di pembaTIK level 4 ini, tugas utama yang harus saya kerjakan diantaramya ; membuat vlog praktik baik pembelajaran memanfaatkan portal rumah belajar, membuat blog yang berisi serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam pembaTIK level 4, mensosialisasikan Portal Rumah Belajar dan implementasinya baik secara daring maupun tatap muka dengan ketentuan minimal 50 peserta daring, dan 25 peserta tatap muka, kemudian mendokumentasikan dalam bentuk video.


Pada tanggal 26 Oktober 2021, saya mulai berkoordinasi dengan teman-teman SRB yang berdomisili di Kabupaten Berau. Kami 4 orang. Dua diantaranya berasal dari Kecamatan Biduk-biduk, satu dari kecamatan Sambaliung, dan saya sendiri dari Kecamatan Maratua. Kami terpisahkan jarak. Rasanya tidak mungkin untuk bersilaturahmi dalam waktu dekat mengingat jarak satu sama lain cukup jauh. Di sini saya bersyukur, dapat berkoordinasi dengan teman-teman, sekaligus mengetahui bahwa tidak semua peserta berangkat dari daerah yang murah akses. 


Pada Tanggal 27 November, kami berempat membuat grup Whattsap. Dari sana, muncullah beragam ide tentang apa yang bisa kita lakukan bersama untuk mengerjakan tugas akhir pembaTIK level 4 ini. Akhirnya kami sepakat untuk mengadakan webinar lingkup kabupaten, berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, dan salah satu Duta Rumah Belajar Kalimantan Timur. Di hari itu juga, kami bagi teknis pelaksanaan dan penanggung jawabnya. Hanya kami ber empat yang bekerjasama. Tanpa harus tatap muka, dan dalam waktu yang sangat singkat. Ini luar biasa. Jika tanpa semangat dari masing-masing, kami tidak akan bisa menyepakati secepat ini.


Akhirnya pada tanggal 30 November kami mulai sebar flyer dan broadcast ke sosial media. 



Flyer Webinar "Merdeka Belajar Bersama Portal Rumah Belajar" 

Dan ini menjadi agenda pertama yang akan saya lakukan untuk memenuhi tugas akhir pembaTIK level 4. Webinar ini diselenggarakan pada tanggal 3 November 2021, bersamaan dengan Coaching PembaTIK level 4 hari pertama. Pagi harinya kami webinar, dilanjutkan coaching di siang harinya.

Flyer Coaching PembatTIK level 4 Provinsi Kalimantan Timur

Tanggal 3 November 2021 segera tiba. Alhamdulillah webinar yang kami agendakan berjalan dengan lancar dan sukses. Kami dapat merangkul setidaknya 60 lebih peserta yang berasal dari kabupaten Berau maupun dari luar Kabupaten Berau. Acara dimulai tepat pukul 09.00 WITA dan diakhiri pada pukul 12.00 WITA.
Siang harinya, coaching pun saya lalui dengan penuh semangat. Acara dimulai pada pukul 13.00. Saya mengikutinya dengan antusias. Dalam coaching hari pertama ini kami dikelompokkan menjadi 4 kelompok, kemudian diminta membuat tema masing-masing kelompok. Tema ini nantinya akan digunakan untuk tema webinar kelompok yang akan dipandu oleh tim pusdatin dan DRB. Masya Allah.... ternyata harus webinar lagi.

Dokumentasi Foto Coaching Hari Pertama

Selama coaching hari selanjutnya, jadwal diubah ke malam hari. Saya memantau perkembangan dan informasi melalui grup whattshap. Jaringan di sini kurang stabil saat malam jadi tidak bisa menyimak langsung, hanya melihat rekaman melalui youtube. Saya syukuri dan jalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Sambil berharap semua tugas bisa terselesaikan dengan lancar dan baik. 

Pada hari Jumat 5 Novembet 2021, dan Sabtu, 7 November 2021, saya mengeksekusi agenda sosialisasi tatap muka dengan sasaran 2 sekolah yaitu sekolah tempat saya mengajar, SDN 001 Payung-Payung, dan sekolah di kampung tetangga yaitu SDN 001 Bohe Silian.



Berikut ini adalah dokumentasi pada saat sosialisasi tatap muka bagian 1 :
Dokumentasi Foto Sosialisasi di SDN 001 Payung-Payung

Dokumentasi Foto Sosialisasi di SDN 001 Bohe Silian

Pada tanggal 5 November 2021, saya memberanikan diri mengirim pesan ke Pak Yahya, M.Kom, DRB tahun 2018 yang berasal dari Samarinda. Sebelumnya beliau sudah menawarkan apabila diantara SRB ada yang mau kolaborasi bersama beliau melalui live streaming youtube TV Edukasi. Saya tertarik untuk berkolaborasi dengan beliau, namun masih belum PD disiarkan di TV Edukasi. Kemudian saya bernegosiasi untuk mengadakan INSTAGRAM LIVE bersama beliau. Alhamdulillah beliau ACC. Kami sepakati tanggal, dan segera saya buat flyer.

Flyer INSTAGRAM LIVE Sharing Penting

Sejujurnya, saya belum pernah INSTAGRAM LIVE sebelumnya. Ini pengalaman pertama, dan saya langsung mengundamg DRB Kaltim 2018. Acara live tanggal 8 November 2021 yang berlangsung 60 menit itu tersaji dengan obrolan santai yang menarik untuk disimak. Membahas tentang Merdeka Belajar, Literasi Digital, Pembelajaran Berbasis TIK di daerah 3T, juga membahas tentang pengalaman saya dalam mengajar. INSTAGRAM LIVE tersebut dapat dilihat melalui link di bawah ini :


Agenda sosialisasi selanjutnya adalah webinar kelompok SRB. Kelompok ini  kami beri nama BEKASAI (Berbagi dan Berkolaborasi Secara Inovatif) di Benua Etam dengan topik "Inovasi Sumber Belajar Wujudkan Merdeka Belajar". Webinar ini dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Oktober 2021. Saya berbagi tentang pembuatan konten video pembelajaran menggunakan aplikasi camtasia. Webinar ini diadakan pada sore hari, pukul 16.00 WITA - 18.00 WITA. Meskipun tidak bisa menarik banyak peserta, namun webinar ini terlaksana dengan sangat lancar. Flyer bernuansa pink ini kami sebar 3 hari sebelumnya. Di tanggal ini juga saya melakukan dua kegiatan lain yaitu pembuatan vlog "Praktik Baik Pembelajaran dengan Memanfaatkan Portal Rumah Belajar", dan sosialisasi tatap muka di SDN 001 Teluk Harapan.


Dokumentasi Flyer Webinar Bekasai "Inovasi Sumber Belajar Wujudkan Merdeka Belajar"

Di hari berikutnya, 10 November 2021, saya melakukan sosialisasi tatap muka ke SDN 001 Teluk Alulu. Sebuah sekolah yang letaknya di ujung Pulau Maratua. Sosialisasi tatap muka dua hari terakhir ini membawa cerita menarik karena saya menemui beberapa kendala salah satunya adalah cuaca hujan yang akhirnya menunda kegiatan lebih dari 2 jam. 


Berikut ini adalah dokumentasi pada sosialisasi tatap muka bagian 2...

Sosialisasi di SDN 001 Teluk Harapan

Sosialisasi di SDN 001 Teluk Alulu

Di hari terakhir tugas dikumpulkan yaitu hari Kamis, 11 November 2021, saya masih harus menyelesaikan 2 agenda yaitu menyempurnakan vlog, dan live streaming youtube TV Edukasi bersama Pak Yahya, M.Kom, membahas tentang pembuatan video dengan camtasia.

Vlog yang saya buat ini mengenai Praktik Baik Pembelajaran Blended Learning dengan Menggunakan Aplikasi "Next Door Land". Aplikasi ini saya unduh melalui fitur peta budaya dalam portal rumah belajar. Aplikasi ini menyajikan edugame tentang kebudayaan nusantara yang tentu sangat diminati oleh siswa SD. Game menarik, komik dan konten dalam aplikasi yang dapat memotivasi siswa untuk belajar, serta ragam budaya yang disajikan akan menambah khasanah budaya siswa, untuk menumbuhkan literasi budaya pada era globalisasi ini.


Pada pukul 14.00 WITA saya menjadi narasumber di live streaming TV Edukasi Kaltim bersama Pak Yahya, M.Kom, DRB KALTIM 2018. Suatu kebanggaan terseniri bisa berkolaborasi dan satu frame dengan beliau, yang sangat menginspirasi para guru dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. 

Dokumentasi Flyer LIVE STREAMING TV Edukasi KALTIM "Membuat Video dengan Camtasi"



Masya Allah... banyak sekali agenda yang sudah saya laksanakan selama kurang lebih dua minggu ini. Lelah itu pasti. Namun saya yakin keringat ini akan terbayar dengan bertambahnya para guru yang dapat berliterasi digital dengan memanfaatkan portal rumah belajar. Berbagi itu indah.... berkolaborasi membuat segala hal lebih berwarna. Mari tumbuhkan minat literasi digital dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar.

Belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja!
Merdeka belajarnya! Rumah Belajar portalmya! Majulah Indonesia!

Wassalamualaikum Wr. Wb...
Salasm Sehat!
Salam Literasi!


Rabu, 10 November 2021

LITERASI BACA ANAK PULAU

 

Membaca, adalah kemampuan dasar seorang anak yang akan sangat berpengaruh pada pemerolehan ilmu pengetahuan. Sejak usia 5 tahun, bahkan kurang dari itu, sanak sudah dikenalkan huruf dan mengeja. Hal ini bertujuan agar di Sekolah Dasar sudah mahir membaca. Diharapkan setelah mahir membaca, siswa akan mudah memproses informasi dari pembelajaran di sekolah.

Membaca, yang kemudian kita kenal sebagai literasi baca, sangatlah penting. Manusia tentu membutuhkan ilmu pengetahuan agar dapat berkembang. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh salah satunya dengan membaca. Membaca di sini konteksnya adalah memahami isi bacaan, bukan sekadar lancar membaca.

Rupanya hal ini menjadi perhatian khusus bagi pendidikan kita saat ini. Mengingat minat dan sadar baca generasi muda sangatlah kurang. Membaca tulisan agaknya sudah tergantikan dengan pemerolehan informasi yang lebih praktis, yaitu menonton video. Maka berkurang pula intensitas membaca buku/tulisan.

Untuk itu, sejak beberapa tahun lalu, kementrian pendidikan dan kebudayaan telah membumikan istilah literasi. Sebenarnya literasi ini kompleks, terdiri dari beberapa sub diantaranya membaca, menulis, budaya, digital, dan lain sebagainya. Namun jika kita mendengar istilah literasi, maka kita akan berfokus pada kemampuan membaca dan menulis.

Literasi ini juga akan dijadikan kompetensi utama yang harus dimiliki seorang siswa. Yaitu dengan diubahnya konsep Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi. Hal ini merupakan salah satu agenda besar dalam program Merdeka Belajar yangs edang digaungkan oleh pemerintah.

Nah.... Bagaimana literasi di daerah 3T? Apakah memiliki tingkat kompetensi yang sama? Atau justru lebih buruk karena menemui banyak kendala?

Kebetulan, saya bisa menjabarkan sedikit tentang hal ini. Saya adalah seorang guru SD di Pulau Maratua. Pulau yang terlettak di ujung Indonesia, berbatasan dengan Filipina dan Malaysia. Pada dasarnya analk-anak di Pulau Maratua, memiliki kompetensi minimal yang serupa dengan anak-anak lain. Mereka memiliki kemampuan untuk menangkap informasi yang juga setara dengan anak-anak lain. Yang mempengaruhi kemampuan literasi adalah lingkungan mereka. 

Kebiasaan sehari-hari, latar belakang orang tua, pergaulan, dan bagaimana cara orang-orang di sekitar mereka memperlakukan mereka. Dari sini saya melihat bahwa kemampuan literasi baca anak-anak di Pulau Maratua masih sangat kurang. Mereka cenderung senang memperoleh informasi secara visual, melalui ucapan langsung, atau melihat konten video, daripada membaca tulisan. 

Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi membawa paradigma baru yang luar biasa. Anak-anak dituntut untuk dapat berliterasi baca dengan baik. Sedangkan kebiasaan mereka belum mengarah ke sana. Ini menjadi PR yang sangat berat untuk kami, para guru di Pulau Maratua.

Bagaimana kami berkiprah menumbuhkan minat baca anak-anak yang kurang. Serta bagaimana kami mengajarkan anak-anak agar cepat lancar membaca. Di Pulau Maratuia, siswa kelas 1 SD masih harus dibimbing secara intensif dalam kompetensi membaca dan menulisnya.

Saya berharap, dengan adanya kemauan, usaha, dan kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orangtua m,urid, dapat menjadikan kompetensi minimal dalam literasi ini dapat terwujud. Karena, apapun itu, suka tidak suka, literasi membaca itu sangat penting.

Demikian coretan singkat saya, sebagai buah pikiran yang saya curahkan. Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari tulisan singkat ini. Terimakasih....

Salam sehat!

Salam literasi!


SAAT SEMUA SERBA MINIMALIS

Assalamualaikum... Wr. Wb. Haii... selamat pagi... gimana kabar sahabat semuanya hari ini? Semoga selalu bahagia ya...  Lama sekali ya saya ...