Assalamualaikum Wr.Wb...
Bagaimana kabar sahabat
semuanya,,, semoga selalu sehat dan ceria!
Pada tulisan kali ini saya akan
menguraikan tentang praktik baik pembelajaran berbasis TIK pada masa pandemi
yang telah saya lakukan. Namun sebelumnya saya perlu menjelaskan bahwa praktik
baik ini bukan untuk gaya-gayaan, atau agar mendapat predikat yang terbaik
diantara para guru yang lain. Saya masih jauh dari baik, dan sedang menjalani
setiap prosesnya dengan belajar dan mencoba berbagi.
Praktik Baik atau sering kita
kenal sebagai Best Practice merupakan "Pengalaman
Terbaik" dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan
tugas, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dan lingkungan tertentu.
Berangkat dari pengertian tersebut saya memiliki ide untuk merancang sebuah
Praktik Baik dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar. Mengapa Portal Rumah
Belajar?
Saat ini kita sebagai guru
harus mengakui bahwa pendidikan kita sudah mengarah ke pembelajaran berbasis
TIK. Hal ini selaras dengan apa yang sudah dilakukan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yang bekerjasama dengan Pusat Data Teknologi Informasi dalam membuat
sebuah portal sebagai upaya memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK, yaitu
Portal Rumah Belajar. Jika kita mengingat sejarah Portal Rumah Belajar,
sebenarnya portal ini sudah ada sejak tahun 2011 tepatnya diluncurkan di
tanggal 15 Juli 2011. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Kemdndikbud sudah
melakukan persiapan ini sejak lama. Kemajuan teknoologi yang berkembang sangat
pesat. Ditambah kemajuan bidang pendidikan dari berbagai negara maju yang juga
semakin melesat ke depan. Rasanya wajar kementerian menanggapi hal ini juga
dengan sigap.
Portal Rumah Belajar adalah
sebuah paket lengkap yang menyajikan berbagai fitur yang menarik untuk
diaplikasikan dalam pembelajaran, dan menjadi sarana pengembangan diri yang
layak untuk dicoba para guru. Salah satu fitur dalam Portal Rumah Belajar yang
menarik perhatian saya adalah Fitur Peta Budaya. Mengapa? Karena keragaman
budaya pada zaman modern seperti sekarang agaknya menjadi hal usang yang seolah
tidak layak untuk dipahami. Padahal, sebagai bentuk rasa syukur kita
berada ditengah keragaman budaya Indonesia, juga sebagai wujud literasi budaya,
kita wajib mengetahui dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Maka, saya
berselancar dalam fitur Peta Budaya, kemudian menemukan sebuah aplikasi yang
luar biasa, yaitu “Next Door Land”.
Aplikasi ini tercetus dari Kerjasama
baik antara Pemerintah Australia, dengan Kemendikbud, dan Rumah Belajar. Setelah
kita membuka aplikasi ini maka kita akan diajak untuk menjelajah Indonesia dan
Australia yang dikemas menarik dalam ragam permainan, serta tampilan komik dan
konten bacaan yang dapat memacu kita untuk mengulik lebih dalam ke dalam
aplikasi ini.
Praktik baik yang saya lakukan
adalah “Blended Learning dengan Aplikasi Next Door Land” Siswa Kelas VI.
Seperti kita telah ketahui bersama, bahwa Blended Learning adalah model
pembelajaran yang menggabungkan du acara belajar yaitu sinkronus (tatap muka)
dan asinkronus(tatap maya/ daring). Blended Learning memiliki 3 sintaks yaitu :
1. Seeking of Information
Mencari
informasi dari berbagai sumber dan media.
2. Acquisition of Information
Mengaitkan
antara temuan informasi dengan materi.
3. Synthesizing of Knowledge
Menjelaskan
pengetahuan yang diperoleh kepada orang lain.
Langkah-langkah yang saya lakukan
dalam praktik baik ini diantaranya :
1. Mengunduh aplikasi Next Door Land, dan
membagikannya di grup Whattsap kelas.
2. Meminta siswa mendownload dan menginstal
di gawai masing-masing.
3. Pada jam pembelajaran, saya memberikam
tugas daring kepada siswa yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan
Indonesia di tiga daerah.
4. Pada pembelajaran tatap muka terbatas,
saya pun memberikan tugas yang sama, dan dilakukan siswa secara kolaboratif
dengan kelompoknya yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan
Indonesia di tiga daerah. (SINTAKS 1)
5. Siswa kemudian berdiskusi mengaitkan
temuannya dengan materi yaitu persatuan dalam perbedaan dan sikap toleransi,
dan memuat laporan singkat. (SINTAKS 2)
6. Perwakilan dalam kelompok menyampaikan
hasil diskusinya di muka kelas. (SINTAKS 3)
Dengan melaksanakan pembelajaran ini,
siswa dapat:
1. Berliterasi digital dengan bijaksana
menggunakan gawai.
2. Berliterasi budaya dengan memainkan
aplikasi “Next Door Land”
3. Mengambil manfaat dari aplikasi tersebut
yaitu sikap toleransi diantara perbedaan, bangga dan menghargai kebudayaan
lain, dan melestarikan budaya Indonesia
4. Memotivasi siswa dalam belajar.
Dengan demikian pembelajaran “Blended
Learning dengan Aplikasi Next Door Land” dapat meningkatkan implementasi
pembelajaran berbasis TIK. Dan sebagai upaya untuk mengajarkan literasi digital
dan literasi budaya kepada siswa kelas VI.
Secara lebih jelas, Praktik Baik
ini dapat sahabat lihat pada video di bawah ini:
Terimakasih sudah membaca, semoga
mendapatkan manfaat dan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sahabat di kelas
masing-masing.
Wassalamualaikum Wr. Wb..
Salam Sehat!
Sala Literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar