Jumat, 12 November 2021

PRAKTIK BAIK INI BUKAN SEMATA DEMI MENJADI YANG TERBAIK

 

Assalamualaikum Wr.Wb...

Bagaimana kabar sahabat semuanya,,, semoga selalu sehat dan ceria!

Pada tulisan kali ini saya akan menguraikan tentang praktik baik pembelajaran berbasis TIK pada masa pandemi yang telah saya lakukan. Namun sebelumnya saya perlu menjelaskan bahwa praktik baik ini bukan untuk gaya-gayaan, atau agar mendapat predikat yang terbaik diantara para guru yang lain. Saya masih jauh dari baik, dan sedang menjalani setiap prosesnya dengan belajar dan mencoba berbagi.

Praktik Baik atau sering kita kenal sebagai Best Practice merupakan "Pengalaman Terbaik" dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dan lingkungan tertentu. Berangkat dari pengertian tersebut saya memiliki ide untuk merancang sebuah Praktik Baik dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar. Mengapa Portal Rumah Belajar? 

Saat ini kita sebagai guru harus mengakui bahwa pendidikan kita sudah mengarah ke pembelajaran berbasis TIK. Hal ini selaras dengan apa yang sudah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Pusat Data Teknologi Informasi dalam membuat sebuah portal sebagai upaya memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK, yaitu Portal Rumah Belajar. Jika kita mengingat sejarah Portal Rumah Belajar, sebenarnya portal ini sudah ada sejak tahun 2011 tepatnya diluncurkan di tanggal 15 Juli 2011. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Kemdndikbud sudah melakukan persiapan ini sejak lama. Kemajuan teknoologi yang berkembang sangat pesat. Ditambah kemajuan bidang pendidikan dari berbagai negara maju yang juga semakin melesat ke depan. Rasanya wajar kementerian menanggapi hal ini juga dengan sigap.

Portal Rumah Belajar adalah sebuah paket lengkap yang menyajikan berbagai fitur yang menarik untuk diaplikasikan dalam pembelajaran, dan menjadi sarana pengembangan diri yang layak untuk dicoba para guru. Salah satu fitur dalam Portal Rumah Belajar yang menarik perhatian saya adalah Fitur Peta Budaya. Mengapa? Karena keragaman budaya pada zaman modern seperti sekarang agaknya menjadi hal usang yang seolah tidak layak untuk dipahami. Padahal, sebagai bentuk rasa syukur kita berada ditengah keragaman budaya Indonesia, juga sebagai wujud literasi budaya, kita wajib mengetahui dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Maka, saya berselancar dalam fitur Peta Budaya, kemudian menemukan sebuah aplikasi yang luar biasa, yaitu “Next Door Land”.

Aplikasi ini tercetus dari Kerjasama baik antara Pemerintah Australia, dengan Kemendikbud, dan Rumah Belajar. Setelah kita membuka aplikasi ini maka kita akan diajak untuk menjelajah Indonesia dan Australia yang dikemas menarik dalam ragam permainan, serta tampilan komik dan konten bacaan yang dapat memacu kita untuk mengulik lebih dalam ke dalam aplikasi ini.

Praktik baik yang saya lakukan adalah “Blended Learning dengan Aplikasi Next Door Land” Siswa Kelas VI. Seperti kita telah ketahui bersama, bahwa Blended Learning adalah model pembelajaran yang menggabungkan du acara belajar yaitu sinkronus (tatap muka) dan asinkronus(tatap maya/ daring). Blended Learning memiliki 3 sintaks yaitu :

1.     Seeking of Information

Mencari informasi dari berbagai sumber dan media.

2.     Acquisition of Information

Mengaitkan antara temuan informasi dengan materi.

3.     Synthesizing of Knowledge

Menjelaskan pengetahuan yang diperoleh kepada orang lain.

Langkah-langkah yang saya lakukan dalam praktik baik ini diantaranya :

1.     Mengunduh aplikasi Next Door Land, dan membagikannya di grup Whattsap kelas.

2.     Meminta siswa mendownload dan menginstal di gawai masing-masing.

3.     Pada jam pembelajaran, saya memberikam tugas daring kepada siswa yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan Indonesia di tiga daerah.

4.     Pada pembelajaran tatap muka terbatas, saya pun memberikan tugas yang sama, dan dilakukan siswa secara kolaboratif dengan kelompoknya yaitu mencari 3 temuan informasi tentang kebudayaan Indonesia di tiga daerah. (SINTAKS 1)

5.     Siswa kemudian berdiskusi mengaitkan temuannya dengan materi yaitu persatuan dalam perbedaan dan sikap toleransi, dan memuat laporan singkat. (SINTAKS 2)

6.     Perwakilan dalam kelompok menyampaikan hasil diskusinya di muka kelas. (SINTAKS 3)

Dengan melaksanakan pembelajaran ini, siswa dapat:

1.     Berliterasi digital dengan bijaksana menggunakan gawai.

2.     Berliterasi budaya dengan memainkan aplikasi “Next Door Land”

3.     Mengambil manfaat dari aplikasi tersebut yaitu sikap toleransi diantara perbedaan, bangga dan menghargai kebudayaan lain, dan melestarikan budaya Indonesia

4.     Memotivasi siswa dalam belajar.

Dengan demikian pembelajaran “Blended Learning dengan Aplikasi Next Door Land” dapat meningkatkan implementasi pembelajaran berbasis TIK. Dan sebagai upaya untuk mengajarkan literasi digital dan literasi budaya kepada siswa kelas VI.

Secara lebih jelas, Praktik Baik ini dapat sahabat lihat pada video di bawah ini:

 


Atau silakan sahabat tekan tautan di bawah ini :

Terimakasih sudah membaca, semoga mendapatkan manfaat dan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sahabat di kelas masing-masing.

Wassalamualaikum Wr. Wb..

Salam Sehat!

Sala Literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAAT SEMUA SERBA MINIMALIS

Assalamualaikum... Wr. Wb. Haii... selamat pagi... gimana kabar sahabat semuanya hari ini? Semoga selalu bahagia ya...  Lama sekali ya saya ...