Asesmen Nasional Berbasis Komputer yang sedang berlangsung di SDN 001 Payung-Payung, memotivasi kami untuk selangkah maju dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Terbersit keluhan karena kegiatan ini seolah dipaksakan, terutama untuk kami di daerah 3T. Namun ditengah usaha kami untuk memenuhi sarana TIK, jaringan dan listrik, serta kesiapan peserta didik untuk melaksanakan agenda kemendikbud ini, di sanalah kami mulai menyadari bahwa pembelajaran berbasis TIK mutlak dilaksanakan di era sekarang.
Assalamualaikum Wr. Wb
Halo...sahabat... Bagaimana kabar hari ini? Meski cuaca sering mendung semoga rona kita tidak mendung ya. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pelaksanaan ANBK di sekolah tempat saya mengajar. Semoga dapat menjadi wawasan baru, dan penyemangat untuk belajar dan berbagi.
Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) adalah salah satu agenda dalam mensukseskan merdeka belajar. Hal ini juga adalah gagasan untuk mengganti Ujian Nasional yang telah menjadi polemik berkepanjangan di kalangan pendidik sejak beberapa tahun ini.
Tahun 2020 menjadi awal pelaksanaan uji coba ANBK. Direncanakan mulai tahun 2021, ANBK berlaku sebagai pengganti UN. Uji coba dilakukan pada jenjang kelas yang di tahun 2021 akan menghadapi ujian akhir, yaitu kelas V, VII, dan XI.
ANBK adalah sebuah tes berbasis komputer dengan dua pilihan yaitu online dan semi online. Siswa mengerjakan soal yang dikelompokkan ke dalam 3 yaitu soal literasi, numerasi, dan survei karakter. Jadi, asesmen tidak dinilai berdasarkan muatan pelajaran, namun dikelompokkan menjadi 3 aspek tersebut di atas.
SDN 001 Payung-Payung tempat saya mengajar adalah sekolah yang berada di Pulau Maratua, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kali pertama mendengar kabar tentang ANBK, kami cenderung acuh tak acuh. Dalam benak kami, tidak mungkin seluruh sekolah diberlakukan aturan yang sama serentak, sementara di sekolah kami belum ada sarana pendukung yang memadai.
Melihat perkembangan informasi yang beredar, kami mulai was-was. Terbersit di benak kami akan seperti apa pelaksanaannya nanti. Sarana komputer di sekolah belum ada. Server apalagi. Listrik PLN pun hanya menyala saat malam hari. Ada 15 unit chrombook bantuan dari Kemendikbud yang belum termanfaatkan secara optimal di sekolah kami.
Hingga suatu ketika kepala sekolah, Bahridin, S.Pd.SD mencoba untuk menegosiasikan mengenai hal ini ke dinas pendidikan kabupaten. Ternyata kami terdata di pusat sebagai penyelenggara mandiri ANBK. Sehingga dinas tidak bisa berbuat banyak. Kami disarankan untuk mengusahakan agar ANBK tetap dapat dilaksanakan.
Hasil diskusi kepala sekolah dan para guru, akhirnya diputuskan bahwa ANBK akan kami laksanakan secara full online, menumpang di bandara Maratua. Kenapa Bandara? Karena di sana ada tower penangkap sinyal yang dapat memastikan kondisi jaringan tetap stabil. Kenapa tidak mengadakan semi online? Kami belum ada server, dan tidak bisa menumpang ke sekolah lain karena terdata melaksanakan mandiri. Alhamdulillah pihak bandara menyambut dan menfasilitasi kami dengan baik.
Hari ini, 17 November 2021 adalah hari pertama kami melaksanakan ANBK. 9 siswa kelas VI dengan oenuh semangat memasuki ruangan, bersama teknisi, proktor, dan ketua ANBK sekolah. Kami harap-harap cemas terkait jaringan yang sejak beberapa hari lalu naik turun karena cuaca tidak menentu. Semoga ANBK SDN 001 Payung-Payung hari ini dan esok, berjalan dengan lancar dan sukses. Aamiin
Dengan adanya cerita ini, saya mulai memikirkan. Seperti apa kiprah TIK di dunia pendidikan kita 5 atau 10 tahun ke depan? Dan saya merefleksi kembali apa yang sudah saya lakukan sebagai wujud implementasi pembelajaran berbasis TIK. Semoga semakin memantik semangat untuk belajar dan berinovasi dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb..
Salam sehat!
Salam literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar